|

Team EcoFaeBrick - MM Reguler Prasetiya Mulya Students: 1st Row Là R: Indri Yuni Handayani, Marselina, Fika Nurfitriyana 2nd Row LàR: Teuku Winnetou, Erma Melina Sarahwati, Yusuf Aria Putera Tim EcoFaeBrick bekerjasama dengan Faerumnesia membuat bata sebagai bahan bangunan berkualitas tinggi dengan harga sangat ekonomis yang berasal dari kotoran sapi. Model bisnis yang diusung mendapat pengakuan dari juri-juri tingkat dunia dan berhasil memenangkan kompetisi bergengsi internasional. Tim mahasiswa Prasetiya Mulya berhasil menjadi juara pertama dan mengungguli 150 tim MBA dari 30 negara lainnya. Tim EcoFaeBrick yang terdiri dari enam mahasiswa Prasetiya Mulya Business School keluar sebagai Juara 1 Kompetisi Tingkat Dunia Global Social Venture Competition (GSVC) 2009 yang berlangsung 23-25 April 2009 lalu di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Tim Prasetiya Mulya mengalahkan 9 finalis dari sekolah bisnis dan universitas top dunia lainnya yaitu London Business School, ESSEC Business School Perancis, Columbia Business School, George Washington University School of Business, Tuck School of Business Dartmouth, Indian School of Business, Sasin Graduate Institute of Business Administration, SP Jain Institute of Management and Research dan Haas School of Business (www.gsvc.org). GSVC merupakan kompetisi Business Plan tingkat dunia yang kompetitif dan diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 1999. Kompetisi ini mengharuskan tim untuk menyiapkan hasil riset dan penelitian dalam Business Plan yang harus berorientasi pada keuntungan dan memberikan dampak sosial positif bagi masyarakat luas, serta memaparkannya di depan juri-juri internasional. Kemenangan ini sangat berarti besar bagi Indonesia karena setelah sepuluh tahun kompetisi ini berlangsung, baru pada tahun 2009 ini tim sekolah bisnis dari luar Amerika Serikat dapat berhasil keluar sebagai juara pertama. Tim EcoFaeBrick bekerjasama dengan organisasi non-formal Faerumnesia yang dipimpin oleh Syammahfuz Chazali. Proyek pengelolaan limbah kotoran sapi ini diawali di daerah Godean dan Sayegan – Yogyakarta, yang memiliki komunitas peternak sapi. Penggunaan kotoran sapi sebagai bahan baku untuk membuat bata sebagai bahan bangunan tidak hanya memecahkan masalah polusi kotoran sapi akan tetapi juga mengurangi penggunaan bahan dari tanah liat yang tidak bisa dibarukan lagi karena merupakan sumber dari alam sekaligus mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Penggantian bahan bakar dari kayu menjadi biogas metana yang diambil dari kotoran sapi dalam proses pembakaran bata membuat biaya produksi menjadi lebih rendah serta mengurangi dampak polusi. Dengan menggunakan model bisnis yang melibatkan pengembang perumahan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal melalui perserikatan koperasi-koperasi, tim EcoFaeBrick membangun permintaan pasar yang dapat dipertahankan untuk jangka panjang dan memberikan jaminan berupa keuntungan yang menarik bagi para investor (www.ecofaebrick.com).
|